Jumat, 01 Februari 2013

Cahaya Adzan



JUDUL:           Mari Kita Adzan !!!

...فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا شَيْئٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“...Sesunnguhnya tiada jin, manusia, dan apapun yang mendengar suara azan, melainkan akan menjadi saksi baginya pada Hari Kiamat kelak.” (HR. Imam Malik, Imam Ahmad, Bukhari, an-Nasa’i, dan al-Baihaqi)
Saudaraku sekalian yang seIman dan seAgama, setiap hari kita mendengar azan. Tetapi, pernahkah kita mengahayatinya? Pernahkah kita meresapi makna setiap kalimatnya? Padahal dengan menjiwainya, niscaya kita merasakan kenikmatan luar biasa yang bisa meningkatkan kualitas keimanan kita.
Sadaraku,... mengapa kita tidak meluangkan sejenak waktu untuk merenungi hal ini agar nantinya ada dorongan yang membuat kita untuk berbuat yang serupa, khususnya bagi saudaraku yang pria. Mengapa tiap waktu shalat, muadzin yang kita dapati hanyalah orang yang sama di tiap harinya melakukan azan di suatu masjid? Tidak inginkah kita mencoba pekerjaan ringan yang termasuk ibadah mulia ini?.
Meskipun kita tahu bahwa di tiap masjid telah ada beberapa orang yang ditugaskan untuk melakukan pekerjaan tersebut, tetapi tak ada salahnya jika kita mencoba meminta izin kepada yang bertugas untuk menggantikannya sejenak, dan jangan lupa untuk melandasinya dengan niat yang baik. Disamping sebagai latihan untuk kita, hitung-hitungkan juga sebagai ajang bagi-bagi pahala.
Saudaraku, menjadi seorang muadzin memang tidaklah mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk dapat maju melakukannya di depan jemaah dalam suatu masjid. Namun jangan lupa... bahwa pahala bagi seorang muadzin itu tidak main-main brow!!! Mau tau??
Dalam hadis riwayat Imam Muslim:
عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلْمُؤَذِّنُ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Dari Mu’awiyah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Orang-orang yang mengumandangkan azan itu adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat’.”
Maksud dari orang yang panjang lehernya dalam hadis tersebut adalah betuk isyarat (kinayah) banyaknya pahala mereka (Imam al-Wasytani al-Ubay dan Imam as-Sanusi al-Hasani). Ada yang berpendapat bahwa “panjang leher”  karena kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Ada juga yang berpendapat bahwa orang Arab menyebut para pemukanya dengan leher yang panjang, karena itu para muazin adalah pemuka pada Hari Kiamat. Ada juga yang menafsirkan bahwa  para muazin banyak pengikutnya, dll.
Ada kisah menarik tentang keajaiban azan, namun benar atau tidaknya kisah berikut wallahu a’lam. Di dalam sebuah buku berjudul “The Power of Azan” karangan Miftahul Asror, dikisahkan bahwa; Astronot pertama “Neil Amstrong” dalam kegiatannya keliling dunia setelah mendarat di Bumi, Neil sempat berkunjung ke Kairo, Mesir. Ketika sedang menyusuri perkampungan di kota tersebut, dia mendengar kumandang azan Zuhur berasal dari masjid-masjid di wilayah itu. Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Mendengar suara itu, dia langsung terpana dan bertanya-tanya ihwal suara tersebut.
Para pemandu perjalanannya merasa heran dengan kekaguman Neil Amstrong. Merekapun menjelaskan, “itu adalah suara muazin yang mengingatkan kaum muslimin agar segera melaksanakan shalat.” Namun Neil Amstrong tetap saja terus hanyut dalam keterpanaannya.
Selang beberapa hari, dia menumpahkan “bom” yang menyesakkan dadanya. Neil menyatakan dengan lugas bahwa dia pernah mendengar bacaan-bacaan azan yang sama ketika pertama kali menginjakkan kaki di bulan.
Sekembalinya ke Amerika, dia bertekad untuk mempelajari agama Islam secara sempurna. Ingin dipahaminya prinsip-prinsip Islam detail. Akhirnya, dia pun memproklamirkan diri masuk Islam.
Atas keislamannya ini, sang astronot pertama ini harus rela dipecat dari pekerjaannya di Badan Antariksa Amerika Serikat  (NASA). Namun dia menanggapi pemecatan tersebut dengan penuh kepercayaan dan keimanan, “Saya memang kehilangan pekerjaan saya, tapi saya menemukan Allah.”
Nah, itulah sedikit kisah tentang bagaimana seorang astronot yang non muslim mendapatkan hidayah memeluk agama Islam melalui keajaiban lantunan kalimat azan oleh  seorang muazin. Cakep kan!!
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang menarik mengenai azan ini,  dan akan kita sambung lagi di pembahasan selanjutnya. Mudah-mudahan uraian di atas dapat memberikan pencerahan bagi kita akan mulianya menjadi seorang muadzin. Jadi, tunggu apa lagi... yuk kita azan!. Azan bukanlah suatu pekerjaan yang kuno dan memalukan, lebih dari itu azan merupakan pekerjaan yang tidak ada matinya, karena dari dulu hingga kini azan masih tetap dibutuhkan di masyarakat.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip hadis Nabi Saw, yang berbunyi:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهَمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا.
“seandainya manusia mengetahui (keutamaan) yang terdapat dalam azan dan saf (barisan) pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali lewat pengundian, niscaya mereka akan mengundinya”. (HR. Imam Bukhari)
Sekian.!!
شُكْرًا جَزِيْلاً....

By:
Abd. Rahim (PBA VII)
“Muadzin Masjid Al-Wasilah (STAIN Parepare)”

Abd. Rahim. (PBA VII)
Muadzin Masjid Al-Wasilah”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar